Pos

Dukacita yang Mendahului Kemenangan

Sedari lahir, anak ini telah diajarkan untuk berdukacita. Anak ini lahir untuk patah hati. Di hari kelahirannya, Sang Pemenang yang sesungguhnya telah bangkit. Di hari kelahirannya, Roh itu turun ke bumi sebagai Penghibur. Sebagai Penolong. Sebagai ganti dari Yang Pergi. Bagaimana ia tahu kehadiran Roh itu, jika ia tidak pernah merasa hilang? Bagaimana ia merasa dimenangkan, jika ia tak pernah menyentuh dasar terendah napas hidupnya?
Sedari lahir, anak ini telah diajar untuk ditinggalkan. Anak ini lahir di antara fana yang sering ia anggap selamanya. Karena itu ia diajarkan untuk ditinggalkan, agar yang abadi boleh menetap dalam dirinya. Karena itu ia belajar untuk meninggalkan, agar yang abadi boleh didapatkannya. Semua ucapan penghiburan sudah sangat dipahaminya, karena yang ada dalam dirinya adalah Roh Penghibur. Seharusnya demikian. Pada kenyataannya, sering ia tidak menghibur orang lain. Anak ini masih belajar. 
Sepanjang hidupnya, anak ini diajarkan untuk menangis. Menangis pada w…

Reka Ulang (11)

Aku berpikir. Akankah pergi? Hal yang sejak lama hanya menjadi benak kecil, tertimbun di antara pikiran lainnya. Ide busuk, berdiam di pojok ruang kepala. Aku berpikir. Akankah pergi di saat yang tepat? Akankah pergi di saat yang tidak tepat? Hal yang sejak lama menjadi ketakutan bila itu menjadi kenangan. Hal yang tidak berani tersemai lebih lanjut. Karena pikiran tahu, sesuatu di dalamnya tidak akan pernah sanggup melupakannya. Aku berpikir. Bilamanakah saat yang tepat itu? Aku berpikir dan akhirnya melihat barisan kelabang. Aku berpikir dan kelabang itu hilang. 
Aku berpikir dan aku tidak bisa berpikir. Aku berpikir dan berharap aku tidak bisa berpikir. Karena pikiran ini membangkitkanku. Karena pikiran ini mematikanku. Pikiran ini menjadi sahabat dan musuh. Pikiran ini lebih terganggu dari jiwa yang menghidupinya. Pikiran ini anugerah dan kutuk.
Jangan pernah memunculkan satu jua pikiran busuk di kepala. Semakin hari, ia akan semakin kuat. Ia hidup dan memunculkan bau yang tak dapat…

Bintang Terakhir

Malam itu, kami duduk di atap rumah. Hanya berdua, ditemani sunyi malam. Langit sedang berbaik hati hingga kami dapat melihat kerlipnya gemintang di atas sana.
“Sudah lama tidak memandang alam.” katanya memecah hening.
Aku hanya terdiam. Aku berpikir haruskah aku mengatakan sesuatu, atau itu hanya ekspresi kekagumannya saja yang sebenarnya tak perlu ku timpali.
“Ternyata, langit itu megah,” katanya lagi, “dan ribuan bintang itu membuat kemegahannya menjadi indah.”
Aku masih terdiam sambil terus mengikutinya memandang langit.
“Bulan purnama. Beruntung sekali kita malam ini. Luar biasa.” katanya lagi.
“Ada satu bintang yang selalu menarik perhatianku.” aku akhirnya bersuara.
“Bagaimana bisa? Semua bintang ‘kan sama saja.” dia menoleh ke arahku.
“Tidak. Tidak semua bintang sama. Lihatlah.” kataku sambil menunjuk ke langit. Ia pun mengarahkan kembali pandangannya pada langit. “Kedip mereka berbeda. Cahayanya pun memiliki putih yang berbeda. Corak putihnya tak sama satu sama lain. Kamu bahkan tid…

Menyapa Kawan Lama

Teruntuk satu dari sejuta. Satu bintang yang ku harap jangan jatuh, karena saat ini aku sedang tidak ingin meminta apapun. Sudah lama tertutup awan, kini ku tak lihat sinarmu. Kadang ku kira, kau sudah menjelma menjadi bulan. Haha, tapi untuk apa menjadi bulan jika kau dapat menjadi matahari? Oh, sungguh ku ingat dengan bintang yang tetap berharap menjadi matahari, tetapi matahari terlalu besar untukmu, kawan. Jadi, bintang saja cukup. Bahkan decakku tak mampu membendung cahayamu. Anak-anak memahami kau sebagai bintang kecil di langit yang biru. Padahal, langitmu tak pernah biru, bukan? Biru hanya bias yang kau pakai untuk menutup hitam tak berdimensi. Ah, aku selalu berharap dapat menarik angkasa agar kau tak merasa tenggelam di dalamnya. Ku akhiri sampai di sini saja, kawan. Kita terlalu jauh untuk saling menyapa. Semoga kau selalu percaya bahwa kaulah satu dari sejuta bintang di langit.

Matikah Dia? Matilah Dia

“Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.”
Minggu lalu, saya menyampaikan cerita kepada anak-anak di gereja tentang kematian Yesus Kristus.
Cerita ini bukan cerita asing bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai Kristen. Seumur hidup, orang Kristen akan mendengar cerita kehidupan Yesus dari Ia lahir hingga naik ke surga. Cerita tentang diri-Nya, menyatakan penggenapan janji Allah tentang keselamatan manusia dari dosa.
Kehidupan Yesus bukanlah tentang Yesus seorang diri. Tak akan ada cerita untuk dituturkan tanpa banyak tokoh terlibat dalam lebih dari 30 tahun kehidupan-Nya. Layaknya manusia biasa, manusia lainnya memiliki peran yang berbeda dalam kehidupan Yesus sehingga orang Kristen bisa memahami kisah-Nya seperti apa yang dipahami sekarang.
Pada cerita kematian Yesus, orang Kristen (harusnya sih) tahu beberapa tokoh yang terlibat di dalamnya; prajurit yang ditebas telinganya, pula Petrus yang menebas telinga prajurit tersebut dan juga yang…

Segala Sesuatu Ada Waktunya

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Pada suatu malam setelah saya mengerjakan suatu proyek, saya duduk di sebuah sekretariat di kampus. Sekretariat tempat dulu saya juga berkegiatan, namun sekarang sudah sangat jarang saya kunjungi. Waktu itu saya mengunjunginya karena ingin meminta film lama dari salah satu adik angkatan saya dan saya tahu hanya dia yang punya lengkap. Saya duduk di muka pintu. Sambil menunggu film digandakan ke flashdisk, saya melihat ke dalam sekre. Di sana ada sekitar 10 orang yang sedang mengerjakan sesuatu untuk sebuah kegiatan pada minggu itu. Ada satu orang mahasiswa tingkat tiga, dua orang mahasiswa tingkat dua, dan tujuh orang lainnya adalah mahasiswa tingkat satu. Saya sendiri adalah mahasiswa tingkat empat. Saya melihat kepada para mahasiswa tingkat satu.
Masih baru, masih fresh. Terlihat mereka tertawa dengan begitu lepasnya. Mereka terlihat bahagia seakan tidak ada apa-apa dalam kehidupan mereka. Saya melihat m…

Sepotong Kue Bukan Untukmu

Masih ingatkah kau dulu, ketika aku masih kanak. Ingatkah kau pada beberapa kuntum soka yang kuberikan padamu? Aku masih mengingat senyum yang melengkung di wajahmu.
Atau masihkah kau ingat dengan kejutan yang kami berikan? Kala itu, kami berkilometer jauhnya berjalan kaki dari rumah ke pasar swalayan langganan kita. Kami berbohong ingin pergi bermain, padahal kami ingin membeli anting plastik dan pin kecil dengan hanya mengandalkan uang-uang pemberian para Ompung dan Tulang. Lalu kami pulang, membungkusnya, dan menaruh di bagasi mobil. Tak lupa surat kecil tulisan tangan kami juga kami selipkan. Kalau sekarang ku pikir, sungguh murahan apa yang kami berikan waktu itu. Herannya, kau malah terharu dan menangis di depan kami. Lebih lagi, kau pakai hadiah murahan itu dengan bangga di depan rekan-rekanmu.
Dan ingatkah kau dengan hadiah terakhir yang kuberikan? Hadiah terakhir dan aku rasa yang terbaik yang pernah kuberikan.
Saat jarak membentang luas di antara kita. Aku masih ingat dengan ta…