Postingan

Untuk Berlian yang Terabaikan

Dari satu bintang di langit, ku layangkan pandang ke bumi. Jauh di dalam tanah tempat ia bersembunyi. Ia yang selalu berpikir bahwa dirinya batu. Batu yang memang sebaiknya terus bersembunyi.
Sejauh apa resah yang kau kecap? Sedalam apa jatuh yang kau rasa? Kemarilah. Ku lapangkan hati untuk setiap gelisahmu. Tak akan pekak telingaku untuk setiap resahmu.
Agar kamu tahu, kamu tak terabaikan. Tak hanya oleh Pencipta semesta, tapi juga olehku. Agar kamu tahu, bahwa selayang pandang tak jatuh padamu sebagai kebetulan atau keharusan. Ini bukan hanya oleh karunia Pencipta semesta, tapi juga oleh tulusku padamu.
Kamu tak hanya berharga di mata-Ku, namun juga berharga di mataku.
Mungkin Pencipta semesta ini juga mau aku setia dalam proses.
Aku ingin setia menduakan sendirimu. Aku ingin setia merindu lewat tiap terpaan angin di malam panjangmu. Aku ingin setia menemani laparmu hingga kau kenyang, lapar, kenyang, dan lapar kembali. Aku ingin setia hadir dalam tiap prosesmu dan menanti dunia terkagum ak…

Untitled 33

Memijak bumi bukan mauku, menjunjung langit bukan dayaku Satu-satunya yang membuatku berdiri Hanyalah gravitasi
Memijak bumi bukan mauku, menjunjung langit bukan dayaku Karena aku berharap ada yang membuatku berdiri Selain gravitasi
Memijak bumi bukan mauku, menjunjung langit bukan dayaku Tidak ada yang mau berdiri Di atas gravitasi diri
Memijak bumi bukan mauku, menjunjung langit bukan dayaku Lalu aku bisa apa Selain tetap berdiri di atas gravitasi

Gravitasi tidak pernah membuat kita diam. Gravitasi selalu memberi kesempatan untuk bergerak. Gravitasi membuat kita berdiri, bukan bergerak.
Aku menghargai titik kita. Aku menghargai jalan kita.
Di antara seribu percaya yang pernah ku genggam dan seribu percaya yang selalu kau simpan.
Untuk sekali ini aku ingin percaya. Untuk sekali ini aku ingin kau percaya.
Maukah kau berjalan bersamaku? Agar aku tahu aku tidak memijak bumi sendirian. Agar aku mampu menemanimu menjunjung langit yang sama.
Tak apa. Tidurlah dulu.
Jika kau sudah terbangun, aku masi…

Jeruji Malam

Aku sudah tidak pernah melihat matahari. Ku lihat sinarnya, tapi tak ku lihat rupanya. Ku rasakan hangatnya, tapi tak ku tahu waktu terbitnya. Aku pergi sebelum ia terbit dan pulang setelah ia terbenam. Aku tahu dia ada, namun awan tak pernah mengizinkanku menemuinya, seakan takut cintaku direnggut kehangatannya. Udara di sekitarku tak pernah membisikkan tentang keberadaannya di langit. Aku hanya tahu ketidakhadirannya. Aku hanya tahu bahwa langit akan menjadi hitam ketika dia pergi. Bahwa hawa akan menjadi dingin ketika ia tak ada. Bahwa kabut tipis akan turun menjelang kedatangannya. Aku masih terkurung di dalam malam. Gelap, tapi tidak kelam. Hitam, tapi tidak pekat. Hanya kehadirannya yang masih kurindukan. Hanya kehangatannya yang aku butuhkan. Meski ku tahu, menemuinya adalah sebuah kematian. Jeruji malam menjadi rumah abadi.

Dukacita yang Mendahului Kemenangan

Sedari lahir, anak ini telah diajarkan untuk berdukacita. Anak ini lahir untuk patah hati. Di hari kelahirannya, Sang Pemenang yang sesungguhnya telah bangkit. Di hari kelahirannya, Roh itu turun ke bumi sebagai Penghibur. Sebagai Penolong. Sebagai ganti dari Yang Pergi. Bagaimana ia tahu kehadiran Roh itu, jika ia tidak pernah merasa hilang? Bagaimana ia merasa dimenangkan, jika ia tak pernah menyentuh dasar terendah napas hidupnya?
Sedari lahir, anak ini telah diajar untuk ditinggalkan. Anak ini lahir di antara fana yang sering ia anggap selamanya. Karena itu ia diajarkan untuk ditinggalkan, agar yang abadi boleh menetap dalam dirinya. Karena itu ia belajar untuk meninggalkan, agar yang abadi boleh didapatkannya. Semua ucapan penghiburan sudah sangat dipahaminya, karena yang ada dalam dirinya adalah Roh Penghibur. Seharusnya demikian. Pada kenyataannya, sering ia tidak menghibur orang lain. Anak ini masih belajar. 
Sepanjang hidupnya, anak ini diajarkan untuk menangis. Menangis pada w…

Reka Ulang (11)

Aku berpikir. Akankah pergi? Hal yang sejak lama hanya menjadi benak kecil, tertimbun di antara pikiran lainnya. Ide busuk, berdiam di pojok ruang kepala. Aku berpikir. Akankah pergi di saat yang tepat? Akankah pergi di saat yang tidak tepat? Hal yang sejak lama menjadi ketakutan bila itu menjadi kenangan. Hal yang tidak berani tersemai lebih lanjut. Karena pikiran tahu, sesuatu di dalamnya tidak akan pernah sanggup melupakannya. Aku berpikir. Bilamanakah saat yang tepat itu? Aku berpikir dan akhirnya melihat barisan kelabang. Aku berpikir dan kelabang itu hilang. 
Aku berpikir dan aku tidak bisa berpikir. Aku berpikir dan berharap aku tidak bisa berpikir. Karena pikiran ini membangkitkanku. Karena pikiran ini mematikanku. Pikiran ini menjadi sahabat dan musuh. Pikiran ini lebih terganggu dari jiwa yang menghidupinya. Pikiran ini anugerah dan kutuk.
Jangan pernah memunculkan satu jua pikiran busuk di kepala. Semakin hari, ia akan semakin kuat. Ia hidup dan memunculkan bau yang tak dapat…

Bintang Terakhir

Malam itu, kami duduk di atap rumah. Hanya berdua, ditemani sunyi malam. Langit sedang berbaik hati hingga kami dapat melihat kerlipnya gemintang di atas sana.
“Sudah lama tidak memandang alam.” katanya memecah hening.
Aku hanya terdiam. Aku berpikir haruskah aku mengatakan sesuatu, atau itu hanya ekspresi kekagumannya saja yang sebenarnya tak perlu ku timpali.
“Ternyata, langit itu megah,” katanya lagi, “dan ribuan bintang itu membuat kemegahannya menjadi indah.”
Aku masih terdiam sambil terus mengikutinya memandang langit.
“Bulan purnama. Beruntung sekali kita malam ini. Luar biasa.” katanya lagi.
“Ada satu bintang yang selalu menarik perhatianku.” aku akhirnya bersuara.
“Bagaimana bisa? Semua bintang ‘kan sama saja.” dia menoleh ke arahku.
“Tidak. Tidak semua bintang sama. Lihatlah.” kataku sambil menunjuk ke langit. Ia pun mengarahkan kembali pandangannya pada langit. “Kedip mereka berbeda. Cahayanya pun memiliki putih yang berbeda. Corak putihnya tak sama satu sama lain. Kamu bahkan tid…

Menyapa Kawan Lama

Teruntuk satu dari sejuta. Satu bintang yang ku harap jangan jatuh, karena saat ini aku sedang tidak ingin meminta apapun. Sudah lama tertutup awan, kini ku tak lihat sinarmu. Kadang ku kira, kau sudah menjelma menjadi bulan. Haha, tapi untuk apa menjadi bulan jika kau dapat menjadi matahari? Oh, sungguh ku ingat dengan bintang yang tetap berharap menjadi matahari, tetapi matahari terlalu besar untukmu, kawan. Jadi, bintang saja cukup. Bahkan decakku tak mampu membendung cahayamu. Anak-anak memahami kau sebagai bintang kecil di langit yang biru. Padahal, langitmu tak pernah biru, bukan? Biru hanya bias yang kau pakai untuk menutup hitam tak berdimensi. Ah, aku selalu berharap dapat menarik angkasa agar kau tak merasa tenggelam di dalamnya. Ku akhiri sampai di sini saja, kawan. Kita terlalu jauh untuk saling menyapa. Semoga kau selalu percaya bahwa kaulah satu dari sejuta bintang di langit.